Selasa, 30 November 2010

Sebuah Sajak Siang Ini

ketika kulihat secarik kertas
Dan sepotong pena
Ingin kutarikan tangan
Menyusun beberapa baris sajak

Aku memang tak sepintar kau
Atau secantik puisi liris
Aku hanya ingin bernyanyi
Tentang rindu yang mengibu

Aku terlalu lelah untuk selalu mengingat
Segala garis dan segi
Segala titik dan koma
Segala rintih dan jeri
tSegala jejak dan langkah
Aaaaahhhh ... rasanya terlalu banyak yang telah kita perbuat

Tentang kesombongan
Rencana-rencana
Harapan
Asa
Lalu teori-teori segala rupa
Yang tak ingin pula kehilangan tempat

Kata cinta
Gerak kasih
Belai peduli
Tatap manja
Gandengan tangan
Dan segala tubuhmu yang menggenggam tubuhku

Petik gitar
Tepukan gendang
Ayunan angklung
Jeritan parau
Yang pada suatu masa lalu selalu ingin mengalahkan sunyi malam

Putung-putung rokok
Cangkir-cangkir kopi
Dan obrolan-obrolan pengisi wengi
Yag tak pernah basi

Aaaaaaaaaaahhhhhhhhh ...
Lalu apa yang ingin aku tulis
Rasanya secarik kertas tak mampu menampung
Hanya dalam hati aku mampu bersajak
Dan dengan amat sangat ingin membacakannya untuk kalian
Kapan?

Kendal, 231010

oleh Enggar Dhe Pe

Aku Hidup Dalam Sebongkah Tai

Mengambang
dan terseret keruh air
ada yang lancar lancar saja
ada pula yang tersangkut
dan busuk
membuyar aroma air terhampar
ada yang baru
ada pula berasal dari waktu yang lain
tersangkut bersama ranting
ah, tetap saja busuk aroma cium
siapa berani singkirkan?
dan siapa pula yang berani usik bau tak sedap itu?
Berfikirpun enggan..
Ditertawakan
dan terbiarkan begitu saja
bila mengusiknya,

Itulah nasib tai!
Beraneka ragam warna dan rupa
ada rupa kuning
ada rupa merah cabe
ada rupa legam
ada pula rupa hijau
ah, sama saja
semua masih dalam satu mindset yang sama.
"Tai, tanah air indonesia"
hah, aku tersengak!
Tapi seperti itulah teman mayaku berujar..

Haahh,

Baru kali ini aku menyadarinya
selama ini aku hidup
dalam bongkahan tai
terombang ambing
dipermainkan arus
mengambang bersama hamparan air yang panjang
arus arus itu telah berkuasa
seakan mau menancapkan kedigdayaannya
dalam satu warna?
Mungkinkah!
Aroma tak sedap kerap muncul
merusak suasana
aku ingat,
kemarin saja kuning tai ngambang
semua tau tai
Tanah Air mU Tanah Air Indonesia
tapi seperti tak ada kata berani.
Yah, sadar dan tak berani
melawan tai..

Ah, bau apa ini..

oleh Banyu Jero pada 23 November 2010

Sajak malam

1.
Kelambu langit mungkin saja melukis haru
diam dalam paruh membisu biru
tanpa sependar dari kerlip pelita penghuni malam tertentu

2.
sang sabit tertangkap murung
ranum
terkepung gelembung gelembung
mendung
boleh saja lengkung gerimis pertanda tirai tirai pengusik malam
penebar isyarat anyelir kemuraman
tapi tidak dengan hatiku!

3.
Risau jangkrik celoteh sang malam
ah, biasa kudengar juga kusaksikan
dan mereka tak lebih karib pengiring kala rindu kian menggoda asa

4.
malam ranum bulan
taukah kau!
Rinduku berangan..



Banyu Jero
Semarang, 30112010

Ketabahan

Hiruk pikuk kehidupan kian menyekam,
lalu lalang manusian kian ramai,
kecangihan berbagai alat telah dipertarungkan,tetapi hanya bertahan beberapa waktu,

matahari kian menyenari dengan teriknya,
sang hujan tak mau kalah dengan curahan airnya,

kini yang ada hanya ketabahan,
kini yang ada hanya kesabaran,
meski semua mencemooh,
meski langit & bumi semakin tak bersahabat,
meski hati tergores silet tajam tak berwujud,
namun hanya ada satu,hanya ada dalam jiwa,hanya ada pada raga,
dialah 'ketabahan' yang mengalahkan semua hingga akhirny nanti.


Semarang, 27 Agustus 2010

Selamat Jalan

Langit kian mendung,
anginpun berdesah dengan kencang,
entah apa yang terjadi.
pohon pun ikut melambaikan daunnya,

kemarin,
mataharipun belum mulai tinggi,
mata masih terpejam,
dering telpon berbunyi,

terkejut,
terpaku,
pilu,
termenung,
entah apalah,
seketika itu datang berbarengan.

ku dengar kabar,
ku dengar kau telah pergi tak kembali.

mata mulai berkaca-kaca,
kata-katapun tak dapat terucap,
entah penyesalan, ataukah ada perasaan lain.

rasanya baru kemarin aku lihat senyumu,
aku dengar tawa candamu,
kau tutupi rasa sakitmu itu dengan semuanya.

semua kenangan telah kau tutup,
tawa canda kita kau akhiri,
senyumu kini berakhir,
tingkah lakumu tlah pudar.

andai saja aku kemarin bisa disampingmu,
mungkin tak seperti pagi itu,
dengan lemas mendengar kabar,
kabar kepergiaanmu.
namun sayang,
kini sahabat,kawan,krabat,
entah apalah tlah tiada.

Selamat jalan
meski kita tak bisa menuruskan perjuanganmu,
meski kita hanya bisa tersungkur pilu menghantarmu,
tapi kau tetap ada disisi kami,
meski kau tlah berada disisiNya.

selamat jalan
tawamu,
senyumu,
candamu,
tingkah lakumu,
kenanganmu,
dan semua akan selalu ada tak tergantikan.

semoga kau tenang di sana
semoga kau dapat apa yang kau idamkan.

Selamat Jalan Irfani Widiyata

<Photo 1>

Rasa ini

Ingn q ktakn,tp q tk sanggup..ingn mlwan,tp q tk bsa..rsa yg kian dlm,mnyrutkn ingn'q,

in nasib atau derita?,q bngg dg 2 kta..angin yg brhmbus mnyeret u/ ttp mju,tp ddpn ad pnghlang..,

tk q sngka smuany trjdi,q hny bs trdiam sndri,pgi in brbda dg kmrin,mlm in tk sm sprti kmrin..,

sngja q tlis in hny sbg ungkpn rsa,rsa yg brbda dg rsamu..
<Photo 1>

Coretan Ilmu

Panas matahari kala itu menyengat badan
desiran angin berlahan berhembus disela-sela dedaunan
namun tidak sama rasa yang ada kala itu
sebuah pesan singkat masuk dalam hpku

dalam benak aku berkata
"sepertinya baru kemarin coretan ilmu aku terima"

tinta-tintaku belum habis
secarik kertas telah ku siapkan
tak ingi rasanya coretan ilmu-ilmuku hilang begitu saja

terngiang kala itu engkau luangkan waktu bersama kami
dengan kaki lebam
kondisipun tak maksimal
dan disitulah engkau coretkan ilmu kepada kami

whai engkau inspirasi kreatif kami
lekaslah engkau kembali segar bersama kami
doa kami slalu tuangkan untuk engkau

masih banyak coretan ilmu engkau belum kami serap
masih banyak secarik-secarik kertas
masih banyak tinta-tinta pena
kami sigap dalam menerima coretan ilmu yang engkau tuangkan.


Semarang, 24 Oktober 2010
(persembahan untuk dosen, bapak, dan panutan kami tercinta Bapak Suharyanto)
<Photo 1>